Taliwang, – Komisi III DPRD Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) memberikan tanggapan terkait rencana efisiensi anggaran pembangunan jaringan irigasi Bendungan Tiu Suntuk yang beralih ke sistem saluran terbuka.
Lembaga legislatif menekankan, perubahan desain teknis tersebut tidak menjadi persoalan selama fungsi utama bendungan untuk mengairi lahan pertanian warga tetap terpenuhi secara maksimal.
Ketua Komisi III DPRD KSB, H. Basuki AR, S.E., menyatakan, pihaknya memprioritaskan azas manfaat bagi para petani. Baginya, perdebatan mengenai pilihan sistem saluran terbuka maupun tertutup harus bermuara pada satu tujuan, yakni ketersediaan air yang stabil bagi produktivitas pertanian di wilayah tersebut.
“Sistem terbuka atau tertutup sebenarnya tidak menjadi masalah. Kepentingan masyarakat hanya agar air irigasi benar-benar tersedia di lahan mereka,” ujar H. Basuki AR, kemarin.
Meski mendukung upaya efisiensi anggaran oleh pemerintah daerah, H. Basuki menegaskan, DPRD KSB akan tetap menjalankan fungsi pengawasan secara ketat. Komisi III berencana memanggil dinas teknis terkait dalam waktu dekat untuk mendengarkan paparan komprehensif mengenai transisi proyek bernilai ratusan miliar tersebut.
Menurut H. Basuki, pemerintah harus mampu membuktikan bahwa perubahan sistem ini tetap memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Komisi III ingin memastikan rasio antara biaya yang keluar dengan luas lahan yang mampu teraliri tetap berada pada angka yang ideal.
“Kami mesti menghitung seberapa besar dampak ekonominya, berapa luas lahan yang diairi, atau mungkin ada pemanfaatan lain. Antara pengeluaran (spending) dan manfaat harus seimbang sehingga anggaran bisa dinyatakan efektif,” tuturnya.
Di sisi lain, H. Basuki juga melihat adanya potensi pengembangan sumber air di wilayah Jereweh yang bisa menjadi penopang kedaulatan pangan di KSB. Politisi Golkar tersebut meyakini, wilayah Jereweh menyimpan cadangan air yang melimpah dan berkelanjutan untuk kebutuhan jangka panjang.
“Saya yakin kalau di Jereweh kita bisa menemukan sumber air yang sustain dan cukup. Jika kita membangun bendung di Jereweh, mereka (masyarakat) juga pasti mau menerima manfaatnya,” tambahnya.
Sebagai informasi, langkah efisiensi ini muncul setelah Pemerintah KSB melakukan kajian ulang terhadap desain awal jaringan irigasi Bendungan Tiu Suntuk dan beralih dari sistem pipa (tertutup) ke sistem saluran terbuka. Pemerintah KSB mengklaim mampu menghemat anggaran daerah hingga ratusan miliar rupiah tanpa mengurangi target luas fungsional lahan pertanian yang akan terairi. **