Dari Sampah Menjadi Pupuk, Jalan Panjang Petani Maluk Menuju Sawah Organik

Sumbawabaratpost.com

Mereka sempat dianggap gila. Ketika petani lain mulai menanam, Hamzah Hasan dan sejumlah petani di kecamatan Maluk justru sibuk mengais sisa sayuran di pasar, mengangkut kotoran ternak, mengumpulkan jerami dan meracik bahan-bahan yang sebelumnya dianggap sampah.

Menurut orang lain, aktivitas itu tampak seperti membuang waktu. Bagi Hamzah dan kelompoknya, itulah awal perjalanan untuk merebut kembali kemandirian dari sawah mereka sendiri.

“Kami dianggap gila karena membuang waktu,” kata Hamzah Hasan, mengenang awal ketika ia dan sejumlah petani di Kecamatan Maluk memilih meninggalkan pupuk kimia dan mulai mengolah bahan-bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.

Anggapan itu muncul karena mereka sibuk mengumpulkan bahan baku untuk dijadikan pupuk organik, sementara petani lain sudah mulai menanam.

Aktivitas mereka yang berbeda dari petani lain sekitar lahan kerap menjadi tontonan. Pertanyaan pun bermunculan. “Kalian mau menanam atau main-main di lahan?” kenang Hamzah.

Hamzah mengakui sempat muncul keraguan dari anggota kelompok, bagaimana mungkin tanpa pupuk kimia bisa berhasil dan memproduksi lebih banyak dari biasanya, apalagi belum ada bukti yang terlihat, karena memang di Kabupaten Sumbawa Barat petani lebih menggunakan pupuk kimia.

Keraguan mulai sirna setelah para petani mendapat pencerahan awal dari pihak Aliksa Organik SRI Consultant (AOSC) yang merupakan konsultan yang sengaja dilibatkan PT. Amman Nusa Tenggara (AMMAN) dalam menyukseskan program pengembangan pertanian organik di kecamatan Maluk dengan penerapan sistem Pertanian Sehat, Ramah Lingkungan, dan Berkelanjutan (PSRLB).

Hamzah mengatakan, para petani menguatkan diri dan belajar bersama meracik vitamin sendiri dari apa yang ada di sekitar rumah. “Hasilnya, tanah yang dulu keras sekarang jadi gembur dan hitam. Hasil panen naik sekitar dua kali lipat dan yang paling penting, kami tidak lagi pusing memikirkan biaya pupuk yang mahal. Kami sekarang merasa benar-benar menjadi tuan di sawah sendiri,” katanya.

Untuk membuat pupuk organik, mereka hanya memanfaatkan potensi lokal yang tersedia di sekitar, seperti, jerami, kotoran ternak, hijauan, serta berbagai sumber daya hayati yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal. “Sekarang kami sadar bahwa pemanfaatan potensi lokal dapat menjadi kunci dalam menekan biaya produksi dan meningkatkan jumlah produksi, sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan pertanian,” lanjut Hamzah.

Hamzah mengatakan, para petani kini telah mendapatkan pengetahuan untuk mengelola bahan organik seperti jerami, kotoran ternak, hijauan dan sumber daya hayati lainnya menjadi bahan MOL (mikroorganisme lokal), vitamin tanaman serta pupuk kompos.

Hamzah berharap pengetahuan itu bisa mendorong petani menjadi lebih berdaulat atas kebutuhan dan pasokan kompos selama musim tanam, sekaligus membuka sumber pendapatan baru selain hasil panen.

Selain itu, kelompok tani juga diberikan pendampingan melalui sekolah lapangan petani organik untuk mampu melakukan monitoring pertumbuhan tanaman, praktik pengelolaan air, cara pemupukan organik, dan pengendalian hama alami. Petani yang sebelumnya hanya melaksanakan berdasarkan kebiasaan berkembang menjadi analis lapangan yang mampu mengambil keputusan dan mengelola pertanian secara adaptif, berbasis data kondisi aktual dan berkelanjutan.

Beralih dari pola budidaya konvensional ke pertanian organik bukan perkara mudah. Namun keseriusan dan komitmen jangka panjang sebagian petani di kecamatan Maluk mulai membuahkan hasil. Dalam uji coba tersebut, produktivitas padi organik mencapai 7,34 ton per hektare.

Keberhasilan itu bukan hanya soal hasil panen. Para petani kini memahami cara membudidayakan padi organik, mulai dari memilih benih lokal dengan varietas unggul, mengolah tanah, menentukan waktu pemberian kompos atau pupuk kandang, hingga melakukan perawatan dan pengendalian hama yang selalu menjadi ancaman bagi petani.

Hamzah menegaskan, transformasi menjadi petani padi organik bukan sekadar mengejar hasil panen yang melimpah. Lebih dari itu, perubahan tersebut diharapkan membuat petani lebih berdaya dan mampu menekan biaya produksi yang selama ini menjadi salah satu kendala.

Keseriusan menjadi pembudidaya padi organik semakin kuat dengan adanya keterlibatan Idris Sahidu, selaku tokoh kecamatan Maluk yang dikenal sebagai penjaga mata air, di mana dirinya menjadi motivator agar petani menyiapkan waktu luang dalam menggarap lahan pertanian, jika ingin mendapatkan hasil lebih maksimal.

Idris Sahidu, yang dikenal luas sebagai penjaga lingkungan, terlibat aktif mengumpulkan bahan lokal untuk dijadikan pupuk organik. Bersama para petani, ia mendatangi pasar untuk mengumpulkan sisa makanan dan sayuran yang dibuang. Mereka juga mendatangi kandang ternak untuk mengangkut kotoran dan jerami. Idris juga melarang petani membakar jerami.

“Setiap siang ke pasar dan langsung menuju tempat penampungan sampah sementara, di situ kami mengambil sayuran yang sudah terbuang, sisa buah-buahan dan apapun jenis makanan,” ceritanya.

Idris menceritakan saat awal, dimana ada di antara mereka yang merasa malu ikut mengais sampah seperti pemulung, sehingga harus terus diberikan motivasi supaya tetap semangat, karena Aktivitas yang dilakukan adalah investasi jangka panjang untuk diri dan keluarga.

“Kami akan terus dianggap gila dan membuang waktu, tetapi setelah semua proses rampung dan ketersediaan pupuk organik sudah mencukupi, maka kita tidak akan banyak membuang waktu, jadi butuh kesabaran kita semua dalam memulai sebagai petani padi organik,” tandasnya.

Supaya waktu tidak terbuang selama menunggu proses fermentasi kompos atau proses penguraian bahan organik oleh mikroorganisme secara terkontrol, petani melakukan pembersihan secara berkala lahan yang akan dijadikan areal tanam.

Mereka berhasil memproduksi Mikroorganisme Lokal (MOL), cairan berbahan organik yang sebelumnya dianggap sebagai sampah, tetapi kini dimanfaatkan kembali sebagai bagian dari proses pemupukan.

Bahan MOL berasal dari berbagai sumber organik yang tersedia di sekitar, mulai dari buah maja, keong, rebung, bonggol pisang, limbah sayuran, buah-buahan, hewani. Campuran tersebut kemudian dilengkapi bahan lain, seperti air beras, gula merah dan gula putih, air kelapa, air tebu dan air nira.

MOL yang dikembangkan itu sebagai bio aktivator dan sebagai bio reaktor termasuk menjadi nutrisi langsung tanaman, karena bahan organik sebagai jiwanya tanah tidak bisa diganti dengan bahan lain.

Data Dinas Pertanian Sumbawa Barat pada 2025 mencatat produksi gabah 90.730,83 ton dari luas tanam 14.259,80 hektare. Angka tersebut setara dengan produktivitas rata-rata sekitar 6,36 ton per hektare.

Yogi Ahmad pendamping dari AOSC selalu memotivasi para petani, jika bahan yang dibutuhkan untuk dijadikan pupuk atau kompos sangat tersedia dan melimpah, tinggal bagaimana para petani mengetahui cara meramu serta membuat pupuk organik yang dibutuhkan tanaman padi.

Menurut Yogi, petani justru memiliki keuntungan karena bahan baku pembuatan pupuk tersedia melimpah di sekitar mereka. Bahan-bahan yang selama ini dianggap sampah dapat dimanfaatkan kembali untuk memenuhi kebutuhan pertanian.

Penerapan sistem organik tidak hanya mengubah cara petani mengolah tanah, tetapi juga cara mereka melihat ekosistem sawah. Petani mulai memahami hubungan antara hama dan musuh alami serta mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia.

Praktik pengelolaan limbah jerami tidak lagi dibakar, tetapi sebagai bahan baku kompos untuk meningkatkan kandungan bahan organik tanah. Dengan mengurangi dampak lingkungan, kondisi tanah yang tadinya keras berwarna pucat dengan pH 5.5 (asam) menjadi gembur, berwarna gelap (kandungan organik tinggi) dengan pH 7 (netral).

Aji Suryanto, Senior Manager Social Impact PT. AMMAN menjelaskan bahwa AMMAN menggandeng AOSC untuk melakukan pendampingan melalui pendekatan pertanian alternatif. Pendekatan tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga memperkuat aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara terpadu.

Salah satu pendekatan yang relevan adalah penerapan System of Rice Intensification (SRI) Organik yang terintegrasi dengan konsep Pertanian Sehat, Ramah Lingkungan, dan Berkelanjutan (PSRLB).

Data dan laporan yang diterima, di Desa Maluk yang telah memasuki fase panen produktivitas yang tergolong tinggi, yaitu rata-rata mencapai 7,34 ton per hektare. Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan pola budidaya konvensional sebelumnya yang umumnya berada pada kisaran 5 ton tiap hektare. 

H Amar Nurmansyah, ST, M.Si selaku Bupati Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menyempatkan diri hadir dan ikut melakukan panen perdana. Kehadirannya untuk membuktikan langsung bahwa pemerintah sangat mendorong para petani agar berinovasi dalam rangka meningkatkan produksi sebagai bentuk percepatan realisasi swasembada pangan.

Laporan tentang hasil produksi serta bisa terhindar dari berbagai ancaman hama pengganggu membuat orang nomor satu di Bumi Pariri Lema Bariri mengeluarkan instruksi khusus kepada Dinas Pertanian, agar terus mendorong petani menjadi pembudidaya padi organik. “Saya sudah minta Dinas Pertanian untuk melakukan pemetaan areal sawah yang akan dijadikan demplot atau areal uji coba penanaman padi organik,” akunya.

Bupati juga meminta AMMAN selaku perusahaan yang memberikan dukungan terhadap kelompok petani kecamatan Maluk untuk menjadi pembudidaya padi organik, agar menyiapkan juga program serupa dengan penerapan lokasi luar wilayah tambang, karena program yang telah dilaksanakan ini menjadi contoh keberhasilan dan juga menjadi pemantik bagi petani lain.

Di tengah capaian produktivitas padi organik yang mencapai 7,34 ton per hektare, ratusan hektare sawah dengan pola budidaya konvensional di wilayah lain justru dinyatakan gagal panen akibat serangan hama wereng hijau.

Sebagian tanaman di sawah tersebut kemudian dimusnahkan dengan cara dibakar untuk mengantisipasi penyebaran hama. **

Imam Taufik