Menghidupkan Kembali Lereng Bekas Tambang, dari Ijuk hingga Pohon Lokal

Sumbawabaratpost.com

Dari kejauhan, lereng itu perlahan berubah warna.

Di antara permukaan tanah yang baru ditata, lembaran-lembaran ijuk terbentang mengikuti kemiringan lereng. Di beberapa bagian, tanaman muda mulai muncul dari sela-selanya. Akar-akar kecil perlahan mencengkeram tanah yang sebelumnya terbuka.

Belum menjadi hutan. Belum pula menyerupai ekosistem alami seperti sebelum kawasan itu ditambang.

Namun, proses untuk menghidupkannya kembali sedang berlangsung.

Di lahan bekas tambang Batu Hijau, reklamasi tidak berhenti pada menanam pohon. Lereng terlebih dahulu ditata, tanah pucuk dikembalikan, permukaan tanah dilindungi dari erosi, kemudian vegetasi ditumbuhkan dan dirawat.

Pada bagian yang rawan tergerus air, material sederhana dari alam ikut mengambil peran: serat ijuk pohon aren.

Selimut sebelum akar mengambil alih

Ijuk blanket merupakan lembaran berbahan serat aren yang dijalin menyerupai selimut atau tikar tebal. Material itu dibentangkan di permukaan lahan yang baru selesai ditata, terutama pada lereng dengan kemiringan tinggi.

Tugasnya berlangsung pada masa yang sangat menentukan.

Tanah yang baru direkonstruksi masih gembur dan belum memiliki tutupan vegetasi yang cukup. Ketika hujan turun, air dapat langsung menghantam permukaan tanah, mengikis lapisan atas, lalu membawa butiran tanah mengikuti aliran permukaan.

Di sinilah ijuk bekerja.

Lembaran serat tersebut membantu meredam energi tumbukan air hujan dan memperlambat aliran permukaan. Pada saat yang sama, material itu membantu menjaga benih tanaman penutup agar tidak mudah hanyut.

Ijuk menjadi semacam pelindung sementara sampai tanaman tumbuh.

Ketika akar mulai menembus sela-sela serat dan mencengkeram tanah, fungsi pengikat tanah perlahan berpindah kepada sistem perakaran. Material ijuk yang bersifat organik kemudian terurai secara alami.

Dengan kata lain, lembaran hitam itu bukan tujuan akhir reklamasi.

Ia hanya menjadi bagian dari proses untuk mengantarkan tanah menuju kondisi ketika vegetasi mampu melindunginya sendiri.

Penggunaan material alami tersebut juga dilakukan dalam skala luas. Hingga akhir 2024, ijuk blanket dan sabut kelapa atau coconet telah diterapkan pada area reklamasi seluas 799,53 hektare.

Dari material lokal ke pengendalian erosi

Ahmad Sofyan dari Dinas Lingkungan Hidup Sumbawa Barat mengatakan serat ijuk dalam bentuk ijuk blanket dan sabut kelapa atau coconet telah digunakan sebagai material lokal untuk mendukung kegiatan reklamasi dan pemulihan lingkungan lahan bekas tambang.

Menurut Sofyan, material tersebut digunakan untuk membantu mengendalikan erosi pada lereng sebelum vegetasi tumbuh dan mampu memperkuat tanah secara alami.

Penggunaan material alami itu juga menjadi bagian dari pendekatan eco-engineering, yakni pemanfaatan material dan proses alami untuk mendukung rekayasa lingkungan.

Pada masa awal, pengendalian erosi di lereng curam lahan reklamasi mengandalkan jaring goni impor. Seiring waktu, material lokal berupa serat ijuk dan sabut kelapa mulai dimanfaatkan dan diproduksi oleh masyarakat sekitar tambang.

Bagi lahan reklamasi, perubahan material itu bukan sekadar soal dari mana bahan diperoleh.

Ada fungsi ekologis sekaligus rantai ekonomi yang ikut terbentuk.

Sebab, sebelum selembar ijuk terbentang di lereng, ada tangan-tangan masyarakat yang mengolahnya. Begitu pula dengan bibit pohon yang kelak tumbuh di atas tanah reklamasi. Sebagiannya telah dirawat lebih dulu di persemaian masyarakat.

Ketika reklamasi mulai menumbuhkan kehidupan

Setelah lereng ditata dan permukaan tanah mendapatkan perlindungan, proses pemulihan bergerak menuju tahap berikutnya: menumbuhkan vegetasi.

Lahan bekas tambang tidak otomatis kembali menjadi ekosistem hanya dengan ditanami pohon.

Tanaman membutuhkan media tumbuh. Media tumbuh membutuhkan perlindungan. Dan sebelum akar cukup kuat, tanah membutuhkan pengendalian erosi.

Karena itu, setiap bagian saling berkaitan.

Ijuk melindungi permukaan. Tanaman penutup mulai tumbuh. Akar memperkuat tanah. Pohon-pohon lokal kemudian membangun tutupan vegetasi.

AMMAN mengutamakan spesies lokal Sumbawa Barat dalam kegiatan reklamasi. Lebih dari 99 jenis tanaman asli telah dikembangkan untuk mendukung proses tersebut, di antaranya ipil atau merbau, binong, rotan, aren, serta berbagai jenis tanaman lokal lainnya.

Pilihan tanaman lokal bukan sekadar membuat lahan tampak hijau.

Vegetasi merupakan bagian dari upaya membangun kembali fungsi ekologis kawasan. Pohon yang tumbuh akan menyediakan tutupan, membantu menjaga tanah, dan secara bertahap menciptakan lingkungan yang lebih mendukung kehidupan organisme lain.

Karena itu, keberhasilan reklamasi tidak hanya dapat dilihat dari berapa banyak pohon yang ditanam, tetapi juga dari bagaimana vegetasi tersebut tumbuh dan berkembang dalam jangka panjang.

Bibit tumbuh sebelum menyentuh lereng

Ada bagian lain dari cerita yang berlangsung jauh dari lereng.

Di Desa Tongo dan Sekongkang, masyarakat mengelola Community Nursery yang menyediakan bibit tanaman lokal untuk kebutuhan reklamasi.

Bibit-bibit itu tidak langsung dibawa ke lahan bekas tambang. Mereka tumbuh lebih dulu di persemaian, dirawat hingga cukup kuat, sebelum kemudian dipindahkan ke tanah yang telah disiapkan.

Hingga akhir 2024, lebih dari 575.197 bibit pohon dari persemaian masyarakat telah ditanam di area reklamasi AMMAN.

Jumlah itu menunjukkan bahwa pemulihan lahan tidak hanya berlangsung di kawasan tambang. Sebagian prosesnya dimulai dari lingkungan masyarakat.

Pada 2025, dua Community Nursery tersebut mampu memasok hampir 82 persen kebutuhan bibit reklamasi perusahaan, dengan kapasitas produksi hingga 300.000 bibit per tahun.

Dari persemaian, bibit kemudian mengikuti perjalanan menuju lereng.

Sementara di tempat lain, serat ijuk dan sabut kelapa dipersiapkan untuk menjalankan fungsi berbeda: menjaga tanah sampai akar mengambil alih.

Dua pekerjaan itu bertemu di satu tempat yang sama—lahan bekas tambang.

Lereng yang luas, pemulihan yang bertahap

Skala pekerjaan tersebut terlihat dari luas kawasan yang pernah dibuka untuk kegiatan operasional.

Menurut Kartika Octaviana, Vice President Corporate Communication AMMAN, hingga akhir 2024 area yang telah dibuka untuk operasional Tambang Batu Hijau mencapai 3.584,64 hektare.

Hingga Mei 2026, sekitar 881 hektare telah direklamasi.

Angka tersebut tidak menggambarkan pekerjaan yang selesai dalam satu waktu. Reklamasi dilakukan secara bertahap dan berjalan beriringan dengan kegiatan operasional tambang melalui pola concurrent reclamation.

Pada 2025, perusahaan mencatat reklamasi seluas 92,67 hektare, menjadi capaian reklamasi tahunan terbesar sepanjang sejarah operasi Batu Hijau.

Artinya, pemulihan lahan berjalan bersamaan dengan kegiatan pertambangan. Lereng yang telah memungkinkan untuk dipulihkan tidak harus menunggu seluruh aktivitas pertambangan berakhir.

Di setiap bagian lahan yang direklamasi, prosesnya kembali pada pekerjaan yang sama: menata lereng, mengembalikan tanah pucuk, mengendalikan erosi, menumbuhkan tanaman, kemudian merawatnya.

Namun, ada satu bagian lain yang tidak selalu terlihat dari lereng: orang-orang yang mengerjakan material dan bibit.

Dari persemaian dan serat aren, ada penghidupan warga

Kebutuhan reklamasi kemudian membuka ruang bagi masyarakat sekitar untuk ikut terlibat.

Di Jereweh, Tarmizi Pane menjadi salah satu pengusaha ijuk blanket. Bagi dirinya, kebutuhan material reklamasi bukan hanya peluang usaha, tetapi juga pekerjaan bagi masyarakat di sekitarnya.

Para pekerja, termasuk perempuan yang setiap hari mengolah serat aren, mendapatkan penghasilan dari proses tersebut.

Tarmizi mengatakan dirinya berusaha menjaga pembayaran upah para pekerja tepat waktu.

“Kami selalu mengupayakan agar gaji mereka dibayar sebelum keringat mereka kering,” ujarnya.

Kebutuhan material itu memang tidak sedikit. Kebutuhan coconet untuk area reklamasi diperkirakan mencapai 7.000 rol per tahun, dengan kebutuhan sekitar 180 rol per hektare.

Di balik angka itu ada aktivitas ekonomi yang berlangsung di sekitar kawasan tambang.

Ada serat yang dipilah. Ada lembaran yang dibuat. Ada pekerja yang menerima upah. Dan ada keluarga yang menggantungkan sebagian kebutuhan hidupnya dari pekerjaan tersebut.

Khairatun, seorang perempuan yang bekerja mengolah ijuk, telah menjalani pekerjaan itu selama lebih dari dua tahun.

Penghasilannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai pendidikan anaknya hingga salah seorang putrinya menyelesaikan kuliah dan diwisuda.

“Alhamdulillah, dari gaji ini saya penuhi semua kebutuhan saya dan anak-anak,” katanya.

Bagi Khairatun, ijuk mungkin bermula sebagai serat yang harus diolah setiap hari.

Namun setelah meninggalkan tempat produksi, material itu memiliki perjalanan lain.

Ia akan dibawa menuju lereng.

Dibentangkan di atas tanah.

Menunggu hujan.

Menunggu tanaman tumbuh.

Menunggu akar mengambil alih.

Pemulihan yang belum selesai

Reklamasi adalah pekerjaan jangka panjang.

Lembaran ijuk hanya bekerja pada satu fase. Setelah tanaman tumbuh, peran terbesar berpindah kepada akar. Setelah pohon membesar, tutupan vegetasi mengambil peran lebih besar dalam menjaga tanah dan membentuk lingkungan baru.

Karena itu, sebuah lahan tidak dapat disebut pulih hanya karena permukaannya telah berubah menjadi hijau.

Ada tanah yang harus dijaga.

Ada tanaman yang harus dipelihara.

Ada bibit yang harus disulam ketika mati.

Ada lereng yang harus dipantau.

Dan ada waktu yang dibutuhkan agar ekosistem perlahan terbentuk kembali.

Di Batu Hijau, proses itu berjalan bersamaan dengan aktivitas tambang.

Dari lereng yang ditata, tanah pucuk yang dikembalikan, ijuk yang dibentangkan, hingga bibit lokal yang ditanam, reklamasi berlangsung melalui pekerjaan yang saling menyambung.

Sementara di baliknya, ada masyarakat yang ikut mengerjakan bagian-bagian kecil dari proses tersebut.

Khairatun mungkin tidak melihat langsung perjalanan serat ijuk yang dikerjakannya setelah meninggalkan tempat produksi.

Tetapi di suatu tempat, serat itu akan terbentang di atas lereng.

Hujan akan jatuh di atasnya.

Tanaman akan tumbuh melalui sela-selanya.

Akar akan semakin kuat.

Dan perlahan, warna tanah yang terbuka akan digantikan oleh hijau.

Di sanalah reklamasi menemukan maknanya: bukan sekadar menutup kembali jejak pertambangan, melainkan memberi kesempatan kepada tanah untuk kembali menjalankan fungsinya—sedikit demi sedikit, dari satu lereng ke lereng berikutnya.