Sosbud

Cerita Friska Mahasiswi KSB yang Ikut Karantina di Natuna

Maluk, – Friska Mogan tercatat sebagai warga Desa Bukit Damai Kecamatan Maluk, sekarang telah dinyatakan sehat setelah mengikuti serangkaian karantina selama empat belas hari di Natuna, sehingga dirinya dipulangkan untuk bertemu keluarga.

Friska

Mahasiswa asal Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) itu diketahui tinggal di kota sianning Negara Tiongkok, yang bersangkutan tercatat sebagai mahasiswi di Hubei University of Science and Technology, dimana wilayah tersebut masuk dalam kawasan mewabahnya virus corona, sehingga harus dievakuasi paksa oleh pemerintah dan sebelum dipulangkan wajib mengikuti serangkaian karantina. “Saya dinyatakan sehat dan bisa pulang ke kampung halaman,” kata Friska saat ditemui media ini.

Saat itu Friska menceritakan proses evakuasi, dimana dirinya mendapatkan kabar dari Perkumpukan Pelajar Indonesia (PPI) di provinsi Wuhan tentang rencana evakuasi. Atas informasi itu, dirinya langsung mempersiapkan diri, namun harus menunggu kedatangan perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). “Setelah seminggu menunggu, perwakilan KBRI datang untuk melakukan evakuasi dan penerbangan menuju Natuna,” lanjutnya.

Mahasiswi kedokteran yang sudah semester 8 itu mengaku jika dirinya tidak terinveksi virus mematikan itu. Hal itu dibuktikan dengan sertifikat yang diberikan Menteri Kesehatan saat acara pelepasan setelah mengikuti serangkaian karantina di Natuna bersama rekan-rekannya. “Setelah menjalani karantina, Menteri Kesehatan memberikan sertifikat sebagai tanda sehat dan bebas dari virus corona,” tandasnya, sambil mengaku bahwa saat dalam proses karantina setiap waktu dilakukan pengecekan.

Terkait dengan proses perkuliahan, untuk sementara aktivitas perkuliahannya bisa di lakukan dengan sistem kuliah online. “Untuk sementara kami melakukan kuliah melalui online dan tidak diketahui sampai kapan proses tersebut, lantaran kondisi Wuhan masih terisolir dari penyebaran virus Corona,” tuturnya.

Friska Mogan berharap kondisi China segera membaik, agar dirinya segera menyelesaikan kuliahnya dan mendapatkan gelar sarjana kedokteran lalu mengabdi untuk KSB. “Waktu pertama berangkat kuliah hanya modal nekat, namun dirinya bisa mendapatkan beasiswa dari provinsi Hubei dan dari universitas, lantaran dirinya bisa mendapat peringkat kedua, bahkan tercatat sebagai satu-satunya mahasiswa indonesia yang mendapat beasiswa,” ucapnya.

Sementara Mogan selaku orang tua Friska yang merupakan asal Toraja mengaku, jika putrinya akan mengabdikan untuk KSB setelah status menjadi dokter nantinya. Hal itu sebagai bukti kecintaannya terhadap Bumi Pariri Lema Bariri. “Saya berharap ada dukungan pemerintah KSB dan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk kelanjutan perkualihan anak saya,” harapnya. **