EkonomiPemerintahan

Petani Rumput Laut Menduga Air Laut Tercemar, Diskan Tinjau Lokasi

Taliwang, – Laporan dari petani pembudidaya rumput laut dari Desa Kertasari, jika saat ini produksi terus menurun akibat terjadinya kerontokan yang diduga disebabkan pencemaran air laut. Hal itu telah ditindaklanjuti oleh Dinas Perikanan Kabupaten Sumbawa Barat (Diskan KSB) dengan melakukan peninjauan lokasi.

“Kami sudah melakukan pengecekan secara langsung bersama penyuluh, bahkan dilokasi telah diambil sampel untuk melihat dan menganalisa penyebab terjadi kerontokan rumput laut, namun belum bisa diberikan keputusan apa yang menjadi penyebab terganggunya budidaya rumput laut disebagian wilayah Desa Kertasari,” ucap Slamet Riadi, S.Pi, M.Si selaku sekretaris Diskan saat ditemui media ini diruang kerja usai pulang peninjauan pada Selasa 19/1 kemarin.

Dikesempatan itu Meta sapaan akrabnya menyampaikan hasil pengecekan tersebut, dimana tidak semua areal budidaya mengalami kerontokan bibit, justru pada beberapa titik yang terdapat hutan bakau dan ombak besar kondisi sangat bagus. Temuan itu yang membuatnya tidak bisa langsung memberikan keputusan akibat pencemaran air laut seperti laporan dari para pembudidaya.

Melihat kasus kerusakan rumput laut tidak merata, Meta mengaku perlu analisa dan pengujian melalui laboraturium atas dugaan telah terjadi pencemaran air laut, sehingga pihaknya telah mengambil air laut untuk dilakukan pengujian. “Secara teori sangat tidak mungkin kerusakan itu akibat pencemaran lingkungan atau air laut telah tercemar, sebab yang mengalami persoalan tidak semua areal budidaya di Desa Kertasari,” lanjutnya.

Meta mengaku tidak salah jika para nelayan budidaya rumput laut menduga telah terjadi pencemaran air laut akibat aktifitas gelondong, lantaran beberapa waktu lalu telah terjadi kematian ikan para areal sungai Banjar yang bermuara pada laut Kertasari, termasuk pencemaran akibat aktifitas tambak udang yang berada di kecamatan Poto Tano. “Laporan masyarakat telah kami tindaklanjuti dengan pengecekan lokasi dan pengambilan sampel, jadi akan terjawab setelah ada hasil pengujiannya,” tandasnya.

Meskipun bukan membantah bahwa aktifitas tambak Poto Tano belum menjadi potensi pencemaran air laut, Meta menyampaikan bahwa aktifitas budidaya rumput laut yang berada lebih dekat dengan keberadaan tambak, justru hasil pengecekan lapangan tidak mengalami persoalan. Hal itu bisa dijadikan pijakan bagi nelayan rumput laut kertasari, jika ada persoalan lain yang menjadi penyebabnya. “Tetap kita tunggu hasil pengujian terhadap sampel air dan sampel rumput laut itu sendiri,” terangnya. **