Pemerintahan

DKP KSB Klaim “Gema PESAL” Sebagai Upaya Pertahankan Pilar STBM

Taliwang, – Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sumbawa Barat (DKP KSB) mengklaim bahwa program Gerakan Masyarakat Gemar Menanam yang Praktis, Ekonomis, Segar, Alami dan Lestari (Gema PESAL) yang akan dimaksimalkan tahun 2022 mendatang, sebagai upaya serius mempertahankan status daerah sebagai satu-satunya kabupaten di Indonesia yang telah tuntas melaksanakan 5 pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

“Secara tidak langsung Gema PESAL mengajak masyarakat untuk memanfaatkan limbah rumah tangga sebagai kompos (pupuk) yang dipergunakan sebagai penyubur tanaman yang ditanam dalam pekarangan, sehingga salah satu pilar STBM tetap dilaksanakan oleh masyarakat,” kata Ir Muhammad Saleh M.Si selaku kepala DKP KSB saat dikonfirmasi media ini, Kamis 18/11 kemarin.

Diingatkan Saleh sapaan akrabnya, pengolahan dan pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi salah satu pilar yang cukup sulit untuk dipertahankan, tetapi dengan mengetahui manfaat dari limbah tersebut, maka masyarakat tidak akan lagi membuangnya. “Tanaman butuh pupuk organik, jadi masyarakat dapat memanfaatkan sendiri limbah produk rumah tangga masing-masing,” lanjutnya.

Masih keterangan Saleh, untuk mengajak masyarakat memanfaatkan limbah rumah tangga, pihak DKP KSB pasti akan membangun koordinasi lintas sektoral atau melibatkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tekhnis. “Untuk memberikan edukasi kepada masyarakat cara pemanfaatan limbah rumah tangga akan melibatkan OPD lainnya yang lebih mengerti,” timpalnya.

Program Gema PESAL juga akan berdampak pada penghentian aktifitas pelepasan ternak dalam wilayah Kemutar Telu Center (KTC), lantaran pagar pembatasan perkantoran akan dimanfaatkan sebagai media tanam oleh pemerintah, terutama pekarangan semua kantor pemerintahan. “Kalau ada tanaman yang akan dijaga, maka pelepasan ternak dalam wilayah KTC akan diperketat,” ungkapnya.

Sebagai informasi penting yang sering disampaikan, jika Gema PESAL termasuk sebagai upaya pemerintah dalam merubah perilaku masyarakat, terutama dalam pemanfaatan pekarangan sebagai media tanam berbagai kebutuhan rumah tangga itu sendiri. “Memang sebagai langkah awal program Gema PESAL akan dipusatkan terlebih dahulu dalam lingkungan KTC dengan memanfaatkan halaman perkantoran. Caranya, aktif menanam menggunakan pot, polybag dan lahan untuk tanaman sayuran, obat-obatan, maupun jenis tanaman buah-buahan dengan tetap berpedoman pada keindahan dan estetika,” terangnya.

Terakhir Saleh mengatakan bahwa saat ini diperlukan strategi tepat dalam merubah prilaku masyarakat untuk gemar menanam, jadi program yang sedang dirancang ini akan dipelopori oleh kaum ibu-ibu dengan memanfaatkan lahan disekitar tempat tinggal (pekarangan) ataupun menanam dengan menggunakan pot/polybag (bahan bekas), sehingga akan mendatangkan hasil yang sangat ekonomi. **