Tingkatkan Ketahanan Pangan, BBWS NT I Kebut Rehabilitasi Bendung Kalimantong II Sumbawa Barat pada 2026

Oleh: Maharani Putri Pravitasari, ST., M.Eng

Sumbawa Barat — Upaya konkret dalam memperkuat infrastruktur sumber daya air di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali digulirkan. Pada tahun 2026 ini, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I secara resmi mengeksekusi proyek strategis berupa Rehabilitasi Bendung Kalimantong II yang terintegrasi dalam Daerah Irigasi (DI) Bintang Bano Kompleks, Kabupaten Sumbawa Barat.

Proyek vital ini dibiayai melalui dana APBN Tahun 2026 di bawah naungan Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal (Ditjen) Sumber Daya Air. Pelaksanaan pekerjaan fisik ini dijadwalkan berlangsung selama 210 Hari Kalender (HK), terhitung sejak dimulainya masa kontrak pada bulan Mei 2026 dan ditargetkan rampung sepenuhnya pada bulan Desember 2026.

Langkah proaktif ini menjadi angin segar bagi sektor agraris setempat, mengingat infrastruktur tersebut merupakan “urat nadi” bagi stabilitas pasokan air yang melayani areal layanan irigasi seluas kurang lebih 2.500 Hektar (Ha) lahan produktif di wilayah tersebut.

OPTIMALISASI LAYANAN AIR IRIGASI

Kondisi fisik dan fungsional Bendung Kalimantong II yang dibangun pada tahun 1993 dinilai telah memasuki fase yang membutuhkan peremajaan secara komprehensif. Rehabilitasi yang dilakukan oleh BBWS NT I ini bukan sekadar perbaikan struktural mayor dan minor, melainkan sebuah optimalisasi fungsi layanan tata air yang krusial.

Beberapa fokus utama dalam pengerjaan infrastruktur ini meliputi:

Perkuatan Struktur Utama: Memperbaiki degradasi fisik pada tubuh bendung untuk memastikan usia pakai jangka panjang.

Pembenahan Sistem Hidrolik: Memastikan bukaan pintu air berfungsi maksimal demi efisiensi distribusi.

Normalisasi Saluran: Membersihkan sedimen pada saluran primer dan sekunder agar debit air yang mengalir ke petak-petak sawah tidak mengalami penyusutan berarti.

Urgensi Manajemen Konstruksi dan Pola Gilir Air di luar aspek teknis perbaikan fisik, satu tantangan paling kritikal yang harus dieksekusi secara hati-hati adalah pemilihan metode pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Mengingat sistem irigasi ini bersifat aktif, pelaksana proyek tidak bisa serta-merta memutus aliran air.

Pihak kontraktor bersama BBWS NT I wajib menerapkan rekayasa sequence (tahapan) konstruksi yang presisi serta mempertimbangkan pengaturan distribusi air dari hulu (Bendungan Bintang Bano) hingga ke areal hilir. Sistem pola gilir air selama masa konstruksi mutlak dirumuskan dan disepakati bersama Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) setempat. Tujuannya satu: memastikan proyek perbaikan selama 210 HK ini tetap berjalan sesuai jadwal tanpa mengorbankan pasokan untuk luasan 2.500 Ha lahan petani yang sedang memasuki masa tanam.

DAMPAK SOSIO-EKONOMI BAGI MASYARAKAT

Selama ini, DI Bintang Bano Kompleks menjadi salah satu lumbung pangan andalan di Kabupaten Sumbawa Barat. Namun, tantangan berupa fluktuasi debit air saat pergantian musim kerap membayangi produktivitas para petani.

Melalui intervensi perbaikan yang ditargetkan selesai pada penghujung tahun anggaran 2026 ini, diharapkan tercipta rasio efisiensi distribusi air yang jauh lebih tinggi. Hal ini secara langsung akan berdampak pada:

Peningkatan Indeks Pertanaman (IP): Petani memiliki peluang lebih besar untuk menanam lebih dari dua kali dalam setahun berkat suplai air yang terjamin di musim kemarau.

Mitigasi Bencana: Menekan potensi luapan atau kebocoran air yang kerap memicu kerugian material saat curah hujan sedang tinggi.

Kemandirian Pangan Lokal: Mendorong peningkatan tonase panen gabah di wilayah Sumbawa Barat.

HARAPAN PELAKSANAAN TEPAT WAKTU

Seiring telah berjalannya kontrak sejak Mei tahun ini, publik dan masyarakat tani penggarap di Sumbawa Barat menaruh ekspektasi besar terhadap kinerja kontraktor pelaksana dan pengawasan dari BBWS NT I. Kualitas pengerjaan yang sesuai spesifikasi, kehati-hatian dalam manajemen aliran air selama proyek, dan penyelesaian yang tepat waktu sebelum tutup tahun pada Desember mendatang menjadi kunci utama. Dengan demikian, manfaat dari Bendung Kalimantong II yang baru direhabilitasi ini dapat segera dirasakan secara maksimal.

Keberhasilan proyek ini tidak hanya akan memperkokoh infrastruktur fisik, tetapi juga membangun fondasi ekonomi kerakyatan yang jauh lebih solid di Bumi Pariri Lema Bariri. **