Sosbud

Dinas Arpus Ajak Warga Membaca Untuk “Trauma Healing”

Taliwang, – Dinas Arsip dan Perpustakan (Arpus), akan mendatangi sejumlah tenda pengusian untuk mengajak anak-anak yang berstatus pelajar untuk membaca buku. Kegiatan yang akan dimulai Rabu 29/8 (hari ini, red), merupakan upaya atau ajakan untuk melupakan peristiwa gempa bumi yang meluluh lantakan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), beberapa hari lalu.

“Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengobati rasa trauma warga terutama pelajar. Dinas Arpus mengambil bagian dengan cara mengajak untuk membaca bersama didalam tenda pengusian, termasuk mendatangi sekolah yang berada pada daerah kunjungan,” tegas Sajadah, S.Sos, MSi selaku kabid pengembangan perpustakaan pada Dinas Arpus, pada Selasa 28/8 kemarin.

Disampaikan Ajat sapaan akrabnya, semangat besar pihak Dinas Arpus mengajak anak-anak untuk membaca bersama di tenda pengusian, agar tidak muncul gejala seperti syok, mimpi buruk, sulit konsentrasi, cemas, waspada secara berlebihan, dan perasaan tidak aman. Selain itu, penyintas juga bisa mengalami kesedihan mendalam, merasa hampa serta tak berdaya, dan enggan bergaul. Gejala psikis itu tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Para penyintas harus dibantu supaya pulih kesehatan mentalnya. “Kami yakin dengan membaca bisa mengobati mental anak itu sendiri,” lanjutnya.

Dasar lain yang membuat Dinas Arpus melaksanakan roadshow membaca adalah, penanganan dampak psikologis terhadap korban dalam konteks bencana alam ditempuh dengan cara memberikan dukungan psikososial, alih-alih pemulihan trauma. Selama ini ada anggapan bahwa pemulihan trauma bertujuan untuk melupakan peristiwa traumatik, sementara memori manusia mustahil melupakan peristiwa pahit seperti bencana. Jadi cara tepat para korban diajak untuk melepaskan diri dari kungkungan rasa takut jika ingatan akan bencana muncul.

Dalam kunjungan itu sendiri, pihak Tim Arpus akan melakukan evaluasi tentang focus membaca anak, termasuk lama waktu membaca buku untuk mengetahui tingkat psikis anak itu sendiri. “Bukan sekedar mengajak untuk membaca, tetapi juga ingin mengetahui apakah anak-anak telah trauma dengan bencana gempa bumi itu,” katanya.

Dibeberkan juga, pada hari pertama kunjungan direncanakan konsentrasi tim di Desa persiapan Lamunga dan Desa Seloto. Jika hasil analisa bahwa mengajak membaca bisa menurunkan atau menghilangkan traumatic, maka kegiatan akan terus dilakukan pada semua tenda pengusian. “Ada beberapa cara yang akan kami lakukan sebagai bentuk perhatian terhadap para korban gempa,” ucapnya. **