Tim Kemenkes Assesment Untuk Pembuktian KSB Bebas Frambusia

Taliwang, – Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) memastikan, jika sudah terbebas dari Frambusia atau infeksi kulit yang disebabkan bakteri Treponema pallidum pertenue atau dalam beberapa bahasa daerah disebut patek, puru, buba. (Orang Taliwang sering menyebut krek sela’ ngemu dalam), dimana bakteri dimaksud dapat masuk ke dalam tubuh seseorang melalui luka terbuka atau goresan di kulit. Cara penularannya adalah melalui kontak langsung dengan ruam kulit pada penderita frambusia.

“Untuk membuktikan bahwa benar KSB telah bebas frambusia, telah datang tim dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) sebanyak 5 orang yang diketuai Yety Intarti, SKM, M.Kes untuk melakukan Assesment Eradikasi Frambusia,” beber NS H Indra Alamsyah, S.Kep, M.Si selaku kabid pencegahan, pengendalian penyakit dan kesehatan lingkungan pada Dikes KSB usai mendampingi tim ada Rabu 22/11 kemarin.

Masih keterangan H Indra, kunjungan tim dari Kemenkes bukan sekedar melakukan assesment, tetapi pembuktian lapangan bahwa benar KSB telah menjadi salah satu kabupaten yang ikut dalam program membebaskan Indonesia dari frambusia. “Jika memang terbukti, maka pemerintah KSB akan mendapatkan sertifikat eradikasi frambusia,” lanjutnya.

Diingatkan H Indra, Tim Kemenkes mengaku bahwa KSB dinilai layak untuk di assessment dan calon mendapatkan sertifikat bebas frambusia, karena penyakit itu sudah tidak ditemukan di tengah masyarakat dan didukung status KSB sebagai kabupaten tuntas 5 Pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). “Dukungan Bupati KSB dan tingkat kesadaran masyarakat dalam upaya pemberantasan frambusia menjadi factor penguat dan semoga bisa menyakinkan Komisi Ahli Frambusia Kemenkes RI,” ungkapnya.

Dikesempatan itu H Indra membeberkan beberapa langkah dalam upaya penanggulangan penyakit frambusia yang telah dilakukan pemerintah melalui Dikes, diantaranya, promosi kesehatan, advokasi dan pemberberdayaan/kemitraan masyarakat. Pengendalian faktor risiko untuk memutus mata rantai penularan melalui peningkatan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri, penemuan kasus baru  dan kontak secara dini, pengobatan tuntas dan peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat terutama kebersihan diri dan memperkuat surveilans kasus frambusia.

Sebagai informasi, Assesment awal Eradikasi Frambusia oleh Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 30 Oktober 2023 lalu, dan alhamdulillah hasil penilaiannya baik sekali, sehingga berhak mengikuti penilaian tingkat nasional. “Semoga semua proses berjalan lancar dan KSB sukses mendapat Sertifikasi  Tuntas Eradikasi Frambusia dari Kementerian Kesehatan RI,” harapnya. **