AMMAN Gandeng AOSC, Pengembangan Pertanian Organik Telah Meningkatkan Produksi

Maluk, – Aliksa Organik SRI Consultant (AOSC) adalah konsultan yang sengaja dilibatkan PT. Amman Nusa Tenggara (AMMAN) dalam menyukseskan program pengembangan pertanian organik di kecamatan Maluk dengan penerapan sistem Pertanian Sehat, Ramah Lingkungan, dan Berkelanjutan (PSRLB).

Program yang fokus dilaksanakan itu sebagai upaya juga mengurangi praktik pertanian sistem konvensional, dimana sangat bergantung pada penggunaan pupuk kimia dan pestisida sintetis, sementara pola tersebut dipastikan akan menimbulkan berbagai permasalahan, terutama penurunan kualitas dan kesuburan tanah dan pastikan biaya produksi akan terus meningkat.

Pelaksanaan program tersebut disambut baik kelompok petani, lantaran potensi lokal yang dibutuhkan sebagai bahan organik sangat tersedia di wilayah Kecamatan Maluk, seperti jerami, kotoran ternak, hijauan, termasuk sumber daya hayati belum dimanfaatkan secara optimal sebagai bagian dari sistem pertanian yang mandiri dan berkelanjutan. “Sekarang kami sadar dengan pemanfaatan potensi lokal dapat menjadi kunci dalam menekan biaya produksi dan meningkatkan jumlah produksi, sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan pertanian,” ucap Hamzah Hasan selaku presidium kelompok tani organik di kecamatan Maluk.

Masih keterangan Hamzah sapaan akrabnya, lahan petani yang telah melaksanakan sistem organik melalui program AMMAN telah merasakan manfaat. Salah satunya hasil panen yang melebihi produksi areal sawah sistem konvensional. “Kami bukan hanya merasakan menurun biaya produksi, tetapi hasil panen jauh dari lebih banyak,” lanjutnya.

Hamzah juga mengakui bahwa kelompoknya bukan hanya mendapatkan pendampingan teknik budidaya pertanian, tetapi juga mendapatkan pengetahuan dalam mengembangkan pengelolaan bahan organik seperti jerami, kotoran ternak, hijauan dan sumber daya hayati lainnya sebagai bahan MOL (mikroorganisme lokal) untuk vitamin tanaman dan pupuk utama/kompos yang digunakan dalam mengembangkan pertanian. Pada akhirnya pengembangan dan pengelolaan kompos mandiri ini akan mendorong kelompok tani di Maluk menjadi berdaulat atas kebutuhan dan pasokan kompos selama musim tanam serta menjadi sumber pendapatan selain dari hasil panen beras. Selain itu, kelompok tani juga diberikan pendampingan melalui sekolah lapangan petani organik untuk mampu melakukan monitoring pertumbuhan tanaman, praktik pengelolaan air, cara pemupukan organik, dan pengendalian hama alami. Petani yang sebelumnya hanya melaksanakan berdasarkan kebiasaan berkembang menjadi analis lapangan yang mampu mengambil keputusan dan mengelola pertanian secara adaptif, berbasis data kondisi aktual dan berkelanjutan.

Yogi Ahmad selaku fasilitator sekaligus pendamping dari AOSC mengaku potensi lokal yang bisa dijadikan bahan pupuk organik sangat melimpah, sehingga pihaknya terus memberikan pengetahuan dan cara meramu serta membuat pupuk organik yang dibutuhkan tanaman padi. “Semua bahan organik yang dipergunakan selama pendampingan dari kecamatan Maluk bahkan melimpah dan bisa diproduksi untuk dijual,” akunya.

Diakui Yogi bahwa penerapan sistem organik yang dilakukan bersama petani sangat simpel, karena pihaknya ingin memberikan pesan juga kepada para petani bahwa perubahan juga terjadi pada pemahaman dan pengelolaan ekosistem sawah, seperti peran penting biodiversitas, khususnya hubungan antara hama dan musuh alami. Pengendalian hama tidak lagi bergantung pada pestisida kimia untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Praktik pengelolaan limbah jerami tidak lagi dibakar, tetapi sebagai bahan baku kompos untuk meningkatkan kandungan bahan organik tanah. Dengan mengurangi dampak lingkungan, kondisi tanah yang tadinya keras berwarna pucat dengan pH 5.5 (asam) menjadi gembur, berwarna gelap (kandungan organik tinggi) dengan pH 7 (netral).

Aji Suryanto selaku senior Manager Social Impact PT. AMMAN menyampaikan, AMMAN sengaja menggandeng mitra pelaksana yaitu Aliksa Organik selaku SRI Consultant untuk melakukan peningkatan kapasitas kelompok tani dan pendampingan melalui pendekatan pertanian alternatif yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga mampu memperkuat aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara terpadu. Salah satu pendekatan yang relevan adalah penerapan System of Rice Intensification (SRI) Organik yang terintegrasi dengan konsep Pertanian Sehat, Ramah Lingkungan, dan Berkelanjutan (PSRLB).

Dari sisi kelembagaan, program ini mendorong terbentuknya struktur yang lebih kuat melalui inisiasi Presidium Pertanian Organik Kecamatan Maluk yang menjadi wadah koordinasi antar kelompok tani. Serta, dilaksanakan melalui koordinasi dan kolaborasi aktif bersama petani, pemerintah desa, Bumdes, karang taruna, serta pemangku kepentingan lokal lainnya sejak setahun yang lalu di Agustus 2025. Setelah setahun berjalan, capaian program pada menunjukkan hasil yang positif, khususnya di Desa Maluk yang telah memasuki fase panen. Dari total luasan 1,50 Ha, sebagian lahan telah berhasil dipanen dengan produktivitas yang tergolong tinggi, yaitu rata-rata mencapai 7,34 ton/ha. Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan pola budidaya konvensional sebelumnya yang umumnya berada pada kisaran ±5 ton/ha. **